Velly Kristanti (32), Franchisor Klenger Burger
Sumber: aa sukses
Kisah sukses Susi Pudjiastuti
Perempuan itu mengaku asli Jawa, wajar jika berbahasa Jawa. Namun karena bertahun-tahun berjibaku membangun bisnis di pantai Pangandaran, ia juga luwes berbahasa Sunda. Apa boleh buat, lantaran puluhan tahun melayani pelanggannya di manca negara, dan ia sering terbang ke sana dengan pesawatnya sendiri (ya, pesawatnya sendiri), ia pun bercakap bahasa Inggris seolah berlidah bule. Rasanya nyaris mustahil hal itu terjadi jika kita tahu masa lalunya, karena ia “cuma” lulusan SMP dan “hanya” bakul ikan laut. Wanita berkulit gelap eksotis itu bernama Susi Pudjiastuti.
Berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Waktu itu ia baru sanggup membeli 1 kg, besoknya 2 kg, lusa 5 kg. Begitu seterusnya. Dalam tempo setahun, ia berhasil memasuki pasar Cilacap.
Makin maju usahanya, Susi lalu mulai menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil untuk pengiriman. Kini ia punya ratusan perahu dan puluhan truk. Ia pun kemudian menjadi penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Tiap hari, pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran. “Begitu tiap hari,” tutur perempuan bersuara berat ini seperti dikutip Jawa Pos.
Ia terus berproses untuk maju.
Dari pengepul dan memasok pabrik dan restoran, ia kemudian meningkatkan diri menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.
Ia tahu, semakin segar ikan yang diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba kurang dari 24 jam.
Ia juga tahu, semakin murni ikan itu dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon.
Ia juga paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal — penuh dengan keramik dan kaca — meski untuk itu ia harus menggelontorkan biaya investasi yang lebih mahal.
angan tanya teori kepadanya. Ia akan menggeleng. Ia memang tak dibekali ilmu akademis. Sekolah SMA saja DO. Jadi ketika ditanya apa resep suksesnya, ia tak mampu menjawab. Tapi coba perhatikan apa katanya kepada Niriah.com: “Menurut saya ilmu ekonomi itu alamiah. Kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus, begitu saja.”
Ia memang tidak belajar secara akademis. Namun dari jejaknya, terlihat jelas bahwa ia justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan oleh para pakar manajemen.
Dengan ketiga faktor itulah, menurut saya, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang yang tekun menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang menyerah) menjadi kupu-kupu (pengusaha hasil laut yang sukses). Kini kupu-kupu itu terbang makin tinggi karena ia juga membangun maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya. Pesawat Cessna yang semula hanya dipakai untuk mendukung ekspor hasil lautnya ternyata mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis baru: pesawat carteran. Christian von Strombeck ,suaminya yang kebetulan pria bule yang berprofesi sebagai pilot pesawat carteran asal Jerman mendukungnya.
saat ini ia memiliki 22 armada pesawat kecil, antara lain jenis Cessna Grand, Avanti dan Porter yang dioperasikan oleh 80 pilot, sebanyak 26 diantaranya pilot asing. pesawat Cessna ini harganya Rp.20 miliar per unit. sedang pesawat Avanti harganya empat kali lipat lebih mahal. Maskapai susi Air saat ini beroperasi di seluruh daerah pelosok di Indonesia. untuk mengembangkan bisnisnya ini Susi bertekad mengembangkan armadanya lagi hingga mencapai 40 unit pada akhir tahun depan dengan investasi sekitar Rp.200 miliar di perusahaan nya PT. ASi Pudjiastuti Aviation
Sumber: Nukmanlutfie & Tayuza
Kisah sukses Yuyun , sang pemilik pernak-pernikku
Pemilik usaha kerajinan keramik dan batik dengan label Pernak Pernikku ini awalnya cuma memiliki modal nekat terjun sebagai pengusaha pada 2003. Dia pikir kalau tidak nekat usaha, dia dan suami tidak akan bisa bertahan memenuhi kebutuhan hidup.
"Bayangkan, kami saat itu menunggak membayar listrik tiga bulan. Kondisi yang saya alami saat itu sangat buruk."
Yuyun dan Belmont suaminya memang sempat menjadi korban permainan nasib. Setelah memutuskan mengundurkan diri dari Jessica Advertising, Yuyun pikir masih aman mengandalkan pemasukan dari suami.
Beberapa bulan kemudian, suami yang dinikahinya sejak 2002 itu terlibat masalah di perusahaan garmen tempatnya bekerja. Terpaksa Belmont memilih keluar dari perusahaan tadi.
Pasangan suami istri ini lantas cukup bingung bagaimana menambal sulam kantong. Yuyun sempat menjajakan pakaian dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.
Namun, tidak berapa lama dia ganti haluan, karena menjajakan pakaian tidak menghasilkan keuntungan lumayan. Yuyun pun kembali putar otak mencari bidang bisnis baru.
Kecintaan Yuyun pada keramik membawanya kepada jodoh di bidang usaha. Ada satu merek produk kerajinan keramik yang amat dia senangi.
Maklum bisa dibilang dia penggila beragam produk yang berbahan keramik. Mulai tempat sabun, pajangan hingga aksesori ruangan yang terbuat dari keramik.
Berangkat dari sekadar hobi, Yuyun berniat menjual produk tadi di Jakarta. Dia lantas menelusuri dari mana asal keramik favorit tadi.
Singkat kata dia menemukan pabrik itu di pinggiran Yogyakarta, label yang diusung Takaca. Dia mulai bolak-balik aktif mengambil barang di Yogyakarta untuk dijual di Jakarta.
Pasangan muda itu harus merelakan mobil sedan keluaran 1990 yang dimiliki seharga Rp50 juta untuk dijadikan modal usaha. Salah satunya untuk menyewa kios di ITC Mal Ambasador seharga Rp21 juta.
Awalnya kios mungil tadi mulai menjual kerajinan keramik berbagai fungsi dalam jumlah sedikit, pembelinya juga sangat minim. Transaksi penjualan juga tidak banyak, hanya membukukan Rp50.000-Rp100.000 per hari.
Nyalinya cukup besar untuk menyewa kios di Ambasador yang terhitung relatif mahal. Bukan sembarang alasan, ternyata lokasi tersebut dinilai memudahkan untuk menjaring bule yang disasarnya. "Saya pikir bule kan banyak tinggal dan berkantor di kawasan Mega Kuningan, dekat Ambasador."
Orang asing sengaja dibidik menjadi pembeli utama karena biasanya mereka membeli hiasan rumah etnik berbahan keramik. Mereka juga kerap membeli keramik untuk oleh-oleh saat mudik ke kampung halaman.
Sedikit demi sedikit dia mulai menikmati usahanya. Jerih payahnya pun bertahap membuahkan hasil yang mencengangkan. Setahun lalu dia bisa meraup keuntungan Rp125 juta per bulan. Keuntungan per bulan merangkak naik menjadi Rp200 juta pada tahun ini.
Dengan nada polos dia bilang tidak menyangka dan kadang masih gemetaran menghitung hasil kerja keras tadi. Semua terbayar, lanjutnya. Dia ingat bagaimana dulu memaksakan ikut pameran sebangsa Ina Craft yang ongkos sewa stannya dinilai agak berat. Akan tetapi dari situ dia mulai mendapatkan pesanan ekspor ke sejumlah negara seperti Libanon, Malaysia, Australia, dan Eropa. "Kebanyakan pembeli asing memesan dalam partai besar untuk dijual kembali atau memasok hotel."
Beberapa tahun lalu, Yuyun Belmont gemetaran menghitung jutaan rupiah keuntungan yang diraup dari penjualan produk di satu pameran nasional. Gemetar tadi dianggapnya wajar, tidak pernah terpikir buah kerja kerasnya akan semanis itu. Pemilik usaha kerajinan keramik dan batik dengan label Pernak Pernikku ini awalnya cuma memiliki modal nekat terjun sebagai pengusaha pada 2003. Dia pikir kalau tidak nekat usaha, dia dan suami tidak akan bisa bertahan memenuhi kebutuhan hidup. "Bayangkan, kami saat itu menunggak membayar listrik tiga bulan. Kondisi yang saya alami saat itu sangat buruk." Yuyun dan Belmont suaminya memang sempat menjadi korban permainan nasib. Setelah memutuskan mengundurkan diri dari Jessica Advertising, Yuyun pikir masih aman mengandalkan pemasukan dari suami. Beberapa bulan kemudian, suami yang dinikahinya sejak 2002 itu terlibat masalah di perusahaan garmen tempatnya bekerja. Terpaksa Belmont memilih keluar dari perusahaan tadi. Pasangan suami istri ini lantas cukup bingung bagaimana menambal sulam kantong. Yuyun sempat menjajakan pakaian dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Namun, tidak berapa lama dia ganti haluan, karena menjajakan pakaian tidak menghasilkan keuntungan lumayan. Yuyun pun kembali putar otak mencari bidang bisnis baru. Kecintaan Yuyun pada keramik membawanya kepada jodoh di bidang usaha. Ada satu merek produk kerajinan keramik yang amat dia senangi. Maklum bisa dibilang dia penggila beragam produk yang berbahan keramik. Mulai tempat sabun, pajangan hingga aksesori ruangan yang terbuat dari keramik. Berangkat dari sekadar hobi, Yuyun berniat menjual produk tadi di Jakarta. Dia lantas menelusuri dari mana asal keramik favorit tadi. Singkat kata dia menemukan pabrik itu di pinggiran Yogyakarta, label yang diusung Takaca. Dia mulai bolak-balik aktif mengambil barang di Yogyakarta untuk dijual di Jakarta. Pasangan muda itu harus merelakan mobil sedan keluaran 1990 yang dimiliki seharga Rp50 juta untuk dijadikan modal usaha. Salah satunya untuk menyewa kios di ITC Mal Ambasador seharga Rp21 juta. Awalnya kios mungil tadi mulai menjual kerajinan keramik berbagai fungsi dalam jumlah sedikit, pembelinya juga sangat minim. Transaksi penjualan juga tidak banyak, hanya membukukan Rp50.000-Rp100.000 per hari. Nyalinya cukup besar untuk menyewa kios di Ambasador yang terhitung relatif mahal. Bukan sembarang alasan, ternyata lokasi tersebut dinilai memudahkan untuk menjaring bule yang disasarnya. "Saya pikir bule kan banyak tinggal dan berkantor di kawasan Mega Kuningan, dekat Ambasador." Orang asing sengaja dibidik menjadi pembeli utama karena biasanya mereka membeli hiasan rumah etnik berbahan keramik. Mereka juga kerap membeli keramik untuk oleh-oleh saat mudik ke kampung halaman. Sedikit demi sedikit dia mulai menikmati usahanya. Jerih payahnya pun bertahap membuahkan hasil yang mencengangkan. Setahun lalu dia bisa meraup keuntungan Rp125 juta per bulan. Keuntungan per bulan merangkak naik menjadi Rp200 juta pada tahun ini. Dengan nada polos dia bilang tidak menyangka dan kadang masih gemetaran menghitung hasil kerja keras tadi. Semua terbayar, lanjutnya. Dia ingat bagaimana dulu memaksakan ikut pameran sebangsa Ina Craft yang ongkos sewa stannya dinilai agak berat. Akan tetapi dari situ dia mulai mendapatkan pesanan ekspor ke sejumlah negara seperti Libanon, Malaysia, Australia, dan Eropa. "Kebanyakan pembeli asing memesan dalam partai besar untuk dijual kembali atau memasok hotel." Dahulu, keuntungan yang didapatkan tidak melulu langsung dinikmati. Beberapa kali dia harus gonta-ganti mobil. Saat membutuhkan dana segar, mobil pun dilego. Setelah mendapatkan keuntungan yang cukup besar dia membeli mobil lagi, begitu seterusnya, hingga merasakan balik modal pada tahun ketiga. Dia pun memberanikan membuka pabrik sendiri dan mempekerjakan puluhan orang tenaga di bidang produksi dan distribusi. Perempuan mungil berkerudung ini sedikit banyak terbantu latar belakang keilmuan yang pernah diterima di bangku perkuliahan. Lulusan jurusan akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta ini, kerap mengurus pembukuan dan hitung-hitugan perusahaan sendiri. Selebihnya, dia menjalani dengan otodidak sambil bertanya kanan kiri. Kunci sukses berbisnis menurut perempuan berkulit putih ini, selain menyenangi bidang yang digeluti juga dibutuhkan keseriusan dan totalitas dalam menjalankan usaha. Jeli melihat peluang usaha juga jadi kunci sukses. Dia menambahkan poin penting lain yakni dalam berusaha harus sabar dan jujur. Pembeli ditempatkannya sebagai teman. Pribadinya yang hangat merupakan modal besar membuat deretan panjang pelanggan. Artis Andi Meriam Mattalata saja bisa digaetnya menjadi pelanggan setia. Keduanya kini berkawan akrab dan intens berkomunikasi, padahal awalnya dipertemukan sebagai penjual dan pembeli. "Sebisa mungkin silaturahmi tidak berhenti selepas transaksi terjadi," tutur Yuyun. Sumber: Ciputra entrepreneurship |
Weronika Cybulska awalnya tidak memiliki hasrat untuk berbisnis karena dia merasa telah mapan dengan bekerja di perusahaan besar. Namun krisis 2008 mengubah segalanya.
Sejak krisis keuangan global menghantam Amerika Serikat (AS) pada 2008, Cybulska harus merasakan pahitnya kehidupan. Dia kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan yang memproduksi perhiasan di New York.
Perempuan pemberani itu pun melirik peluang menjadi seorang entrepreneur. Dia memilih mengembangkan sebuah situs internet yang khusus menyediakan jasa pelelangan. Inspirasinya datang ketika dia melihat bisnis lelang di negara asalnya, Polandia, berkembang sangat pesat. Dia dengan mudah mewujudkan situs lelang karena suaminya, Krystian, seorang pakar komputer, dan dia sendiri adalah ahli di bidang pelayanan keuangan dan manajemen strategi. Cybulska menamai situs lelang BidRodeo yang mulai beroperasi tahun lalu. Umumnya,barang-barang yang dilelang adalah iPad, permainan elektronik, perlengkapan rumah tangga, perhiasan, hingga barang-barang bernilai tinggi.
Awalnya, BidRodeo dikembangkan di Eropa pada 6 Juni 2009 dan menjadi inovator pertama di benua itu. Kemudian berkembang pesat di AS hanya beberapa bulan setelah diluncurkan. Menurut Cybulska, situs itu dikembangkan dan dibuat selama tujuh bulan mulai dari riset dan komitmen.
“Para peserta lelang harus cerdas ketika lelang dan melihat waktu yang tepat. Jangan lupa melihat cara berpikir dari para kompetitor lainnya,” papar Cybulska. Namun, Cybulska pernah dibuat frustrasi setelah ada pelelang yang pertama kali ikut lelang, tetapi menang. Padahal, pelelang yang menang umumnya telah ikut lelang beberapa kali. Selain itu, hal yang selalu dipikirkan Cybulska adalah inovasi ke depannya. Dia berniat akan memasukan kategori baru yakni barang mewah untuk menggaet pasar kalangan atas. Perempuan kelahiran Polandia itu merupakan lulusan Sekolah Ekonomi Warsawa pada 2007 dengan gelar master administrasi bisnis. Karier pertama kalinya spesialis pengembang produk di industri perhiasan di New York, AS. Cybulska dikenal sebagai seorang petualang sejati. Dia pernah mengendarai unta berhari-hari di India. Dia juga menjelajah gurun-gurun pasir di Mongolia. Tanpa kenal takut,dia pernah melintasi Eropa dan Asia menggunakan bus dan kereta. Semua itu dilakukannya karena dia memang suka belajar budaya lokal. Sumber: Ciputra entrepreneur |






